TOP NEWS

call center 089631383425/restusouvenir@gmail.com

Jumat, 23 Agustus 2013

KESALAHPAHAMAN TEORI EVOLUSI


KESALAHPAHAMAN TEORI EVOLUSI
Setiap detail alam semesta ini menunjukkan sebuah ciptaan yang luar biasa. Sementara materialisme yang menafikan fakta penciptaan alam semesta tak ada artinya kecuali sebuah pemikiran yang keliru dan tidak ilmiah.
Sekali materialisme dinyatakan tidak sah, semua terori lainnya yang berbasis pada filosofi materialisme membuatnya tak berdasar. Terlebih lagi teori Darwin, yakni teori evolusi. Teori yang berargumen bahwa kehidupan berasal dari materi yang mati secara kebetulan ini telah dijatuhkan oleh penemuan bahwa alam semesta diciptakan oleh Tuhan. Seorang astro-fisikawan Amerika, Hugh Ross, menjelaskan hal tersebut:
"Ateisme, Darwinisme, dan isme-isme lainnya yang berasal dari filsafat abad ke-19 sampai 20 dibangun atas asumsi yang salah yaitu bahwa alam semesta adalah tak terbatas. Keanehan tersebut telah membawa kita berhadapan dengan penyebab -atau yang menyebabkan- di luar/ di balik/ sebelum adanya alam semesta dan semua yang dikandungnya, termasuk kehidupan itu sendiri."1
Allah-lah yang menciptakan alam semesta dan merencanakannya hingga detail terkecil. Karena itulah, mustahil teori yang berpendapat bahwa makhluk hidup tidak diciptakan oleh Tuhan melainkan berasal dari kebetulan itu adalah benar.
Tak heran, ketika mempelajari teori evolusi, kita melihat bahwa teori ini dibantah oleh penemuan-penemuan ilmiah. Konstruksi kehidupan ini benar-benar rumit. Dalam alam benda mati misalnya, kita dapat melihat betapa sensitifnya keseimbangan atom. Kita dapat mengamati dalam konstruksi kompleks yang di dalamnya atom-atom tersebut menyatu. Bagaimana luar biasanya mekanisme dan struktur protein, enzim, dan sel.
Konstruksi yang luar biasa dalam kehidupan ini mematahkan teori Darwin di akhir abad ke-20.
Kita telah membahas masalah ini secara detail dalam beberapa studi lainnya, dan masih akan terus dibahas lagi. Bagaimanapun juga, kami memganggap bahwa akan sangatlah membantu jika dibuat ringkasan tentang subjek yang penting ini.
Runtuhnya Keilmiahan Darwinisme
Meskipu doktrinnya bermula sejak zaman Yunani kuno, teori Evolusi dimodifikasi pada abad ke-19. Perkembangan terpenting yang membuat teori ini menjadi topik yang paling terkenal di dunia sains adalah buku Charles Darwin yang berjudul "The Origin of Species" (Asal Usul Spesies) yang diterbitkan di tahun 1859. Di dalam buku ini, Darwin menafikan bahwa spesies hidup yang berbeda di bumi ini diciptakan secara terpisah sendiri oleh Tuhan. Menurut Darwin, semua makhluk hidup memiliki nenek moyang yang sama dan mereka dianekaragamkan selama beberapa waktu melalui pengubahan secara berangsur-angsur.
Teori Darwin tidak didasarkan pada penemuan ilmiah yang konkrit. Sebagaimana yang dikatakan Darwin, teori tersebut hanyalah sebuah asumsi. Terlebih lagi, ia menyatakan dalam salah satu bab dalam bukunya yang berjudul "Kesulitan Teori ini" bahwa teori ini jatuh karena banyaknya pertanyaan yang kritis.
Darwin menginvestigasi semua kemungkinan dalam penemuan ilmiah baru yang diharapkannya dapat menyelesaikan kesulitan teori ini. Namun sebaliknya, penemuan-penemuan ilmiah memperluas dimensi kesulitan tesebut.
Kekalahan Darwinisme oleh sains dapat dilihat lagi pada tiga hal mendasar:
1. Dengan cara apapun, teori tersebut tidak mampu menjelaskan bagaimana kehidupan bermula di bumi. 
2. Tidak ada penemuan ilmiah yang menujukkan bahwa 'mekanisme evolusi' yang diajukan oleh teori tersebut. Temuan itu pun tidak memiliki kekuatan untuk berevolusi sama sekali. 
3.Catatan fosil benar-benar menunjukkan kebalikan dari teori evolusi.

Dalam bagian ini kita akan mempelajari tiga hal dasar dalam bahasan umum:

Asal Usul Kehidupan
Teori evolusi menyatakan bahwa semua spesies makhluk hidup berevolusi dari sebuah sel tunggal hidup yang ada di bumi purba 3,8 miliar tahun yang lalu, di mana sebuah sel dapat menghasilkan miliaran spesies hidup yang kompleks. Jika evolusi itu benar-benar terjadi, mengapa jejaknya tidak terdapat dalam catatan fosil. Ini merupakan pertanyaan yang tak dapat dijawab oleh teori Darwin. Bagaimanapun juga, hal pertama dan utama yang perlu dipertanyakan dari proses evolusi tersebut adalah: Bagaimana pertama kali kehidupan bermula?.
Karena toeri evolusi menafikan penciptaan dan tidak menerima intervensi supranatural apapun, teori ini tetap manganggap bahwa sel pertama terjadi secara kebetulan karena hukum alam, tanpa perencanaan ataupun pengaturan tertentu. Menurut teori tersebut, materi mati mestinya memproduksi sel hidup karena kebetulan semata. Ini adalah pernyataan yang tidak konsisten bahkan dengan hukum biologi yang paling tidak dapat disangkal.
Kehidupan Berasal dari Kehidupan
Dalam bukunya, Darwin tidak pernah mengacu kepada asal usul kehidupan. Pada masa Darwin, pemahaman sains yang primitif bersandarkan pada asumsi bahwa makhluk hidup memiliki struktur yang sangat sederhana. Sejak abad pertengahan, teori penurunan spontan (spontaneous regeneration) telah diterima oleh masyarakat luas. Teori ini menyatakan bahwa materi tak hidup muncul bersama-sama untuk membentuk organisme hidup. Orang percaya bahwa serangga berasal dari makanan basi, dan tikus berasal dari gandum. Eksperimen-eksperimen yang menarik dilakukan untuk membuktikan teori ini. Sedikit gandum diletakkan pada sepotong pakaian kotor, orang meyakini tikus akan muncul dari sana.
Demikian pula, ulat yang muncul pada daging diasumsikan sebagai bukti teori tersebut. Bagaimanapun juga, hanya beberapa waktu kemudian dipahami bahwa ulat tidak muncul dengan tiba-tiba melainkan dibawa oleh lalat dalam bentuk larva yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.
Bahkan dalam saat Darwin menulis "The Origin of Species", kepercayaan bahwa bakteri muncul dari materi tak hidup diterima luas di kalangan ilmuwan.
Bagaimanapun juga, lima tahun setelah publikasi buku Darwin, Louis Pasteur mengumumkan hasil eksperimennya setelah lama mempelajari. Eksperimennya membantah teori "Penurunan spontan" yang merupakan inti teori Darwin. Dalam kuliahnya yang gemilang di Sorborne pada tahun 1864, Pasteur berkata, "Doktrin penurunan spontan tidak akan pernah bangkit dari pukulan yang mematikan dari eksperimen sederhana ini."2
Para pembela teori evousi menolak penemuan Pastueur untuk waktu yang cukup lama. Bagaimanapun, seiring perkembangan sains mengurai kerumitan struktur sel makhluk hidup, ide bahwa kehidupan muncul secara kebetulan itu menghadapi kebuntuan yang lebih besar lagi.
Usaha-usaha yang Tidak Meyakinkan di Abad ke-20
http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_kebaikan/opar.jpg
Para evolusionis awal yang membahas subjek asal-usul kehidupan di abad ke-20 adalah biolog Rusia terkenal, Alexander Oparin. Pada tahun 1930an, ia mencoba membuktikan bahwa sel makhluk hidup dapat berasal dari kebetulan semata. Bagamanapun juga, studi ini kemudian gagal, dan Oparin harus mengakui hal ini: "Sayangnya, asal usul sel mungkin merupakan masalah yang paling tidak jelas di antara keseluruhan studi evolusi organisme.3
http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_kebaikan/earthkapak.jpg
Para evolusionis pengikut Oparin mencoba melakukan eksperimen untuk memunculkan masalah asal-usul kehidupan. Eksperimen yang paling terkenal dilakukan oleh seorang ahli kimia, Stanley Miller pada tahun 1953. Ia mengkombinasikan gas-gas yang diduga keras ada pada atmosfer bumi purba dalam sebuah eksperimen yang telah diatur sedemikian rupa. Dengan menambahkan energi pada campuran tersebut, Miller mensintesiskan beberapa molekul organik (asam amino) yang ada dari dalam struktur protein.
Baru saja beberapa tahun berlalu sebelum ditemukan bahwa eksperimen yang kemudian ditunjukkan sebagai sebuah langkah yang penting atas nama evolusi, tidaklah sah. Atmosfer yang digunakan dalam eksperimen tersebut sangatlah berbeda dari kondisi bumi sebenarnya.4
Setelah cukup lama membisu, Miller mengatakan bahwa media yang digunakan dalam eksperimennya tidaklah realistis.5
Semua usaha evolusionis sepanjang abad ke-20 untuk menjelaskan asal-usul kehidupan bermuara pada kesimpulan bahwa organisme hidup yang kelihatannya sederhanapun memiliki struktur yang kompleks. Sel makhluk hidup ternyata lebih rumit daripada semua produk teknologi yang dibuat oleh manusia. Bahkan kini, lab yang paling modern di muka bumipun tidak dapat menghasilkan sebuah sel hidup dengan menyatukan materi-materi tak hidup.
http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_kebaikan/dna.jpg
Kondisi yang diperlukan untuk membentuk sebuah sel sangatlah sulit untuk dijelaskan hanya dengan peristiwa kebetulan saja. Peluang protein (dinding pemisah sel) untuk disintesiskan secara kebetulan adalah 1:10950, karena sebuah protein biasanya terdiri dari 500 asam amino. Secara matematis, peluangnya kurang dari 1:1050, praktis tidak mungkin.
Molekul DNA yang tidak terdapat di dalam inti sel dan menyimpan informasi genetis ini adalah sebuah bank data yang menakjubkan. Diperhitungkan bahwa jika informasi yang dikodekan di dalam DNA ditulis, maka akan memenuhi sebuah perpustakaan raksasa yang terdiri dari 900 volume ensiklopedi yang terdiri dari 500 halaman.
Dari sinilah, sebuah dilema yang menarik muncul: DNA hanya dapat mereplika diri dengan bantuan protein-protein khusus (enzim). Bagaimanapun, sintesa enzim-enzim tersebut hanya dapat direalisasikan dengan informasi yang dikodekan di dalam DNA. Karena mereka bergantung satu sama lainnya, mereka haruslah ada dalam waktu yang bersamaan untuk penggandaan dirinya. Hal ini menimbulkan skenario bahwa kehidupan yang berawal dari dirinya sendiri menemui kebuntuan. Prof. Leslie Orgel, seorang evolusionis dari Universitas San Diego, California, mengakui fakta tersebut dalam sebuah majalah sains Amerika edisi bulan September 1994,
"Benar-benar mustahil bahwa protein dan asam nukleat, yang rumit secara struktural, muncul dengan tiba-tiba di waktu dan tempat yang sama. Namun juga mustahil ada salah satu saja. Dan demikianlah, sekilas saja seseorang dapat menyimpulkan bahwa kehidupan tidak akan pernah bermula dari materi-materi kimia."7
Tak diragukan lagi, jika kehidupan mustahil bermula dari sebab-sebab alamiah maka harus diterima bahwa kehidupan diciptakan secara supranatural. Fakta tersebut dengan terang-terangan mematahkan teori evolusi yang tujuan utamanya adalah untuk menafikan fakta penciptaan.
Mekanisme Khayalan Teori Evolusi
Hal kedua yang mematahkan teori Darwin adalah bahwa konsep yang diajukan oleh teori Evolusi sebagai 'mekanisme evolusioner' kenyataannya tidak memiliki kekuatan evolusi.
Darwin mendasarkan penyebutan teori evolusinya sepenuhnya pada mekanisme 'seleksi alam'. Pentingnya ia mengajukan mekanisme ini adalah bukti atas nama bukunya: "The Origin of Species, By means of Natural Selection." (Asal Usul Spesies Melalui Seleksi Alam).
Seleksi alam meyakini bahwa benda-benda hidup yang lebih kuat dan lebih sesuai dengan kondisi alam dalam habitat mereka akan selamat dalam perjuangan hidupnya. Misalnya, sekawanan kijang yang terancam serangan binatang buas. Mereka yang dapat berlari lebih kencang akan bertahan hidup. Karena itulah, sekawanan kijang akan dibandingkan dari kecepatan dan kekuatan masing-masingnya. Bagaimanapun juga, tak perlu dipertanyakan lagi, mekanisme ini tidak akan menyebabkan kijang berevolusi dan mengubah diri mereka menjadi makhluk spesies lain, misalnya kuda.
Maka dari itu, mekanisme seleksi alam tidak memiliki kekuatan evolusioner. Darwin juga menyadari fakta ini dan menyatakan dalam bukunya "The Origin of Species".
Seleksi alam tidak berarti apa pun sampai muncul perbedaan atau variasi inividual yang menguntungkan.8
Pengaruh Lamarck
Jadi, bagaimana mungkin variasi yang menguntungkan ini terjadi? Darwin mencoba menjawab pertanyaan ini dari sudut pandang pemahaman sains yang primitif di masa dia hidup. Menurut biolog Perancis, Lamarck yang hidup sebelum Darwin, makhluk hidup mewarisi sifat untuk generasi selanjutnya yang didapatkan selama hidup mereka. Sifat yang terakumulasi dari satu generasi ke generasi lainnya menyebabkan terbentuknya spesies baru. Sebagai contoh, menurut Lamarck, jarapah berevolusi dari antelop. Karena mereka berusaha memakan dedaunan dari pohon yang tinggi, dari generasi ke generasi leher mereka mulai memanjang.
Darwin juga memberikan contoh yang sama dalam bukunya, "The Origin of Species", misalnya dikatakan bahwa beberapa beruang yang masuk ke dalam air untuk mencari makanan berubah bentuk menjadi ikan paus setelah beberapa lama.9
Bagaimanapun juga, hukum pewarisan yang ditemukan oleh Mendel dan dikuatkan oleh ilmu generika yang ditemukan di abad ke-20 benar-benar menghancurkan legenda bahwa sifat pembawaan diwariskan kepada generasi selanjutnya. Jadi, teori seleksi alam gagal menolong mekanisme evolusionis.
Neo-Darwinisme dan Mutasi

Untuk mencari jalan keluar, pada akhir tahun 1930an para Darwinis mengembangkan "Teori Sintesis Modern" atau yang biasanya dikenal sebagai Neo-Darwinisme. Teori ini menambahkan mutasi, yaitu penyimpangan yang terjadi pada gen makhluk hidup karena faktor-faktor eksternal seperti radiasi atau kesalahan replika sebagai "penyebab variasi yang menguntungkan" dalam penambahan pada mutasi natural.
Kini, model yang berdasar pada evolusi adalah Neo-Darwinisme. Teori ini mempertahankan bahwa jutaan makhluk hidup yang ada di bumi terbentuk sebagai hasil dari proses yang darinya sejumlah organisme-organisme rumit seperti telinga, mata, jantung, dan sayap, mengalami mutasi (kekacauan genetis). Namun, ada fakta ilmiah yang sama sekali palsu, dan benar-benar meruntuhkan teori ini. Mutasi tidak menyebabkan munculnya makhluk hidup. Sebaliknya, mutasi selalu membahayakan makhluk hidup.
Alasannya sangat sederhana: DNA memiliki struktur yang sangat rumit dan efek acak pada DNA tersebut hanya akan membahayakan. Ahli genetika Amerika, B. G. Ranganathan menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:
"Pertama, mutasi asli sangatlah jarang terjadi di alam ini. Kedua, kebanyakan mutasi berbahaya karena perubahannya yang acak, tidak teratur dalam struktur gen. Perubahan secara acak seperti apa pun dalam sebuah sistem yang sangat teratur akan mengakibatkan perubahan yang sangat buruk, tidak akan lebih baik. Sebagai contoh, jika gempa mengguncangkan sebuah struktur yang sangat teratur seperti sebuah bangunan, tidak akan ada perubahan secara acak atas bangunan tersebut dengan segala kemungkinannya, dan tidak akan terjadi perbaikan."10
Tak mengherankan, tak ada satu pun ditemukan mutasi yang berguna, yaitu yang menghasilkan kode genetik. Semua mutasi telah terbukti membahayakan. Telah dimengerti bahwa mutasi yang diajukan sebagai "Mekanisme evolusi" sebenarnya adalah sebuah perisitwa genetis yang membahayakan makhluk hidup, dan menjadikan mereka cacat. (Pengaruh mutasi yang paling sering terjadi pada manusia adalah kanker). Tak disangsikan lagi, mekanisme destruktif tidak mungkin menjadi sebuah "mekanisme evolusioner". Sebaliknya, seleksi natural "tidak dapat melakukan apa pun" seperti yang juga diterima oleh Darwin. Fakta ini menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada "mekanisme evolusioner" di alam. Karena tidak ada mekanisme evolusioner, tidak ada proses khayalan apa pun yang disebut evolusi itu pernah terjadi.
Catatan Fosil: Tidak Ada Tanda Bentuk-Bentuk Peralihan
http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_kebaikan/kambriyen2.jpg
Catatan fosil merupakan bukti yang paling jelas bahwa skenario yang dibuat oleh teori evolusi tidaklah berlaku.
Menurut teori evolusi, setiap spesies hidup telah bersumber dari pendahulunya. Spesies yang ada sebelumnya berubah menjadi spesies lain selama beberpa waktu dan semua spesies muncul dengan cara demikian. Menurut teori tersebut, perubahan bentuk ini berlangsung secara berangsur-angsur selama jutaan tahun.
Jika demikian halnya, maka sejumlah spesies peralihan harusnya ada dan hidup pada masa perubahan bentuk yang lama ini.
Sebagai contoh, sejumlah reptil setengah ikan yang menghasilkan sejumlah ciri reptil sebagai tambahan dari ciri-ciri ikan yang ada pada mereka, seharusnya hidup di masa lalu. Atau harusnya ada sejumlah burung-reptil yang menghasilkan ciri-ciri burung dalam ciri-ciri reptil yang ada. Karena makhluk-makhluk ini ada dalam fase peralihan, mereka seharusnya cacat, tidak sempurna, dan timpang. Para evolusionis menunjuk pada makhluk-mahkluk khayalan yang mereka yakini hidup di masa lalu sebagai bentuk-bentuk peralihan ini.
Jika binatang-binatang yang demikian pernah benar-benar hidup, seharusnya jumlah dan jenis mereka miliaran. Terlebih lagi, sisa-sisa makhluk aneh ini harusnya ada dalam catatan fosil. Dalam "The Origin of Species", Darwin menjelaskan,
"Jika teori saya benar, makhluk jenis peralihan yang tidak ditemukan -yang menghubungkan semua spesies dalam kelompok yang sama ini haruslah ada. Oleh karena itu, bukti keberadaan mereka dulu dapat ditemukan hanya di antara sisa-sisa fosil."11
Harapan Darwin Hancur
http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_kebaikan/rsm3.jpg
Bagaimanapun juga, para evolusionis telah melakukan usaha yang sangat keras untuk menemukan fosil di seluruh dunia sejak pertengahan abad ke-19, namun tidak ada bentuk peralihan yang ditemukan. Tidak sesuai dengan harapan para evolusionis, semua fosil yang digali menunjukkan bahwa kehidupan muncul di bumi dengan tiba-tiba dan terbentuk dengan sempurna.
Seorang paleontolog Inggris terkenal, Derek V. Ager, mengakui fakta ini, walaupun ia adalah seorang evolusionis,
"Masalah muncul saat kita memperlajari catatan fosil secara terperinci, baik dalam tingkat urutan ataupun spesiesnya. Kita akan menemukan bukan evolusi yang berangsur-angsur melainkan ledakan tiba-tiba sekelompok makhluk hidup saat makhluk jenis lain menghilang."12
Ini berarti bahwa catatan fosil semua spesies hidup tiba-tiba muncul dalam bentuk yang sempurna, tanpa adanya bentuk-bentuk peralihan di antaranya. Ini adalah kebalikan asumsi Darwin. Juga menjadi bukti yang kuat bahwa mahkluk hidup adalah diciptakan. Satu-satunya penjelasan dari munculnya spesies makhluk hidup secara tiba-tiba dan sempurna tanpa adanya bentuk-bentuk peralihan di antaranya adalah bahwa makhluk-makhluk tersebut diciptakan. Ini adalah kebalikan dari asumsi Darwin. Ini juga merupakan bukti yang kuat bahwa makhluk hidup itu diciptakan. Satu-satunya penjelasan yang memungkinkan dari munculnya makhluk hidup secara tiba-tiba dan dalam bentuk sempurna tanpa nenek moyang evolusioner adalah bahwa spesies tersebut diciptakan. Fakta ini juga diakui oleh biolog evolusionis, Douglas Futuyma,
"Antara ciptaan dan evolusi ada penjelasan yang mungkin atas asal-usul makhluk hidup. Organisme yang muncul di bumi berkembang dengan sempurna. Jika mereka tidak berkembang sempurna, mereka pasti berkembang dari spesies yang belum ada melalui beberapa proses modifikasi. Jika mereka muncul dalam bentuk yang sempurna, sesungguhnya mereka tercipta oleh sebuah kekuatan cerdas Yang Maha Kuasa."13
Fosil-fosil menujukkan bahwa makhluk-makhluk hidup muncul di bumi dalam bentuk sempurna dan maju. Itu berarti bahwa "Asal-Usul Spesies" adalah berlawanan dengan anggapan Darwin, bukan disebabkan oleh proses evolusi melainkan karena ciptaan.
Dongeng Evolusi Manusia
Masalah yang sering dimunculkan untuk membela teori evolusi adalah masalah asal-usul manusia. Klaim para Darwinis menyatakan bahwa manusia modern masa kini berevolusi dengan makhluk sejenis kera. Selama proses evolusi yang diperkirakan dimulai sekitar 4-5 tahun yang lalu, diklaim bahwa ada beberapa bentuk transisi antara manusia modern dan nenek moyangnya. Menurut skenario evolusiner khayalan ini, empat kategori dasarnya adalah:
1.
Austrapithecus
2. 3.
Homo Habilis
4. 5.
Homo Erectus
6. 7.
Homo Sapiens
8.
Para evolusionis menamakan nenek moyang manusia yang mirip kera ini dengan nama "austrapithecus" yang berarti "kera arika Utara". Makhluk jenis ini sebenarnya tak lain adalah spesies kera purba yang sudah punah. Riset terhadap berbagai spesimen Austrapithecus yang dilakukan dua ahli anatomi terkenal dari Inggris dan Amerika bernama Lord Solly Zuckerman dan Prof. Charles Oxnard telah menunjukkan bahwa tulang belulang itu adalah milik spesies kera biasa yang telah punah dan tidak memiliki kemiripan dengan manusia.14
Para evolusionis mengklasifikasikan tingkatan evolusi manusia berikutnya sebagai "homo", yang berarti "manusia". Menurut klaim evolusionis, makhluk hidup dalam rangkaian homo lebih maju dibandingkan dengan Austrapithecus. Para evolusionis merencanakan sebuah skema evolusi yang menggelikan dengan mengatur fosil-fosil yang berbeda dari sejenis kera dalam urutan-urutan tertentu. Skema ini adalah khayalan karena tidak pernah terbukti bahwa ada sebuah hubungan evolusi antara kelas-kelas makhluk yang berbeda ini. Ernst Mayr, salah seorang pendukung teori evolusi menuliskan sebuah argumen yang panjang dalam bukunya, bahwa "terutama sekali teka-teki sejarah seperti asal usul kehidupan atau homo sapiens benar-benar sulit dan bahkan dapat menentang sebuah penjelasan yang sudah final dan memuaskan".15
Dengan mengggarisbawahi rangkaian hubungan dengan "Austrapithecus> Homo Habilis> Homo Erectus> Homo Sapiens", para evolusionis menyatakan secara tidak langsung bahwa tiap spesies tersebut adalah nenek moyang satu sama lain. Bagaimanapun juga, penemuan terbaru para paleontologis telah menunjukkan bahwa Austrapithecus, homo habilis, dan homo erectus hidup di bagian bumi yang berbeda pada saat yang bersamaan.16
Terlebih lagi, bagian tertentu manusia yang dikasifikasikan sebagai homo erectus hidup sampai masa yang sangat modern. Homo sapiens neanderthalensis dan homo sapiens (manusia modern) hidup bersamaan di daerah yang sama.17
Keadaan ini cenderung mengindikasikan tidak sahnya pernyataan yang menyebutkan bahwa mereka adalah nenek moyang bagi satu sama lain. Seorang palaentolog dari Universitas Harvard, Stephen Jay Gould menjelaskan kebuntuan teori evolusi meskipun dirinya adalah seorang evolusionis:
"Apa yang bisa menolong kita jika ada 3 keturunan hominid (Austrapithecus Africanus, The robust austrapithecines, homo habilis) yang hidup bersamaan, dan tak ada satu pun yang berasal dari yang lain? Terlebih lagi, tak ada satu pun dari ketiganya menujukkan kecenderungan evolusioner selama hidup mereka di bumi."18
Singkatnya, skenario evolusi manusia yang dibuat dengan bantuan beragam gambar makhluk-makhluk "setengah kera-setengah manusia" yang muncul di media dan buku-buku, semua itu jelas-jelas hanya merupakan alat propaganda dan dongeng tanpa dasar ilmiah sama sekali.
http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_kebaikan/rekons.jpg
Lord Solly Zuckerman, salah seorang ilmuwan yang terkenal dan dihormati di Inggris yang melakukan riset terhadap subjek ini selama bertahun-tahun dan secara khusus mempelajari fosil Austrapithecus selama 15 tahun, meskipun ia sendiri adalah evolusionis akhirnya berkesimpulan bahwa faktanya tidak ada garis keturunan dari makhluk sejenis kera kepada manusia.
Zuckerman juga membuat sebuah "spektrum sains" yang menarik. Ia membentuk sebuah spektrum sains yang membentang dari apa-apa yang cenderung ilmiah sampai apa-apa yang cenderung tidak ilmiah. Menurut spektrum Zuckerman, yang paling ilmiah bergantung pada lapangan data sains adalah kimia dan fisika. Setelah itu ilmu biologi, terakhir ilmu pengetahuan sosial. Jauh di akhir spektrum, yang merupakan bagian yang dianggap paling tidak ilmiah adalah "persepsi inderawi-ekstra", yaitu konsep seperti telepati, indera keenam dan "evolusi manusia". Zuckerman menjelaskan alasannya:
"Kita kemudian mulai pada tingkat kebenaran objektif tentang hal-hal yang dianggap sebagai ilmu biologi, seperti persepsi inderawi-ekstra atau interpretasi sejarah fosil manusia, yang bagi evolusionis sejati apa pun mungkin saja terjadi, dan yang bagi orang yang meyakini evolusionis terkadang dapat mempercayai beberapa pertentangan sekaligus."19
Dongeng evolusi manusia tidak membahas apa pun kecuali interpretasi bohong terhadap beberapa fosil yang digali oleh orang-orang yang setia pada teori mereka.
Teknologi Pada Mata dan Telinga
Masalah lain yang tetap tidak terjawab oleh teori evolusi adalah sifat-sifat sempurna dari persepsi mata dan telinga.
Sebelum memasuki pembahasan mengenai mata, mari sekilas kita jawab pertanyaan "bagaimana kita melihat". Cahaya datang dari sebuah objek yang jatuh berseberangan dengan retina mata. Disinilah cahaya ditransmisikan menjadi sinyal elektris oleh sel dan kemudian mencapai titik kecil di belakang otak yang disebut pusat pengelihatan. Sinyal-sinyal elektris ini diterima di pusat otak sebagai sebuah imej (gambar) setelah melalui serangkaian proses. Dengan latar belakang teknik ilmiah, kita berpikir.
Otak terisolasi dari cahaya. Itu berarti bahwa di dalam otak situasinya benar-benar gelap, dan cahaya tidak sampai ke otak. Yang dinamakan pusat pengelihatan adalah sebuah tempat yang benar-benar pekat dimana tak ada cahaya yang dapat masuk. Mungkin otak adalah tempat paling gelap yang pernah kita tahu. Anda mengamati dunia yang terang benderang dalam kegelapan total ini.
Gambar yang terbentuk di dalam mata sangatlah tajam dan jelas, bahkan teknologi abad ke-20 sekalipun tidak dapat menciptakan gambar yang sedemikian jelas. Sebagai contoh, buku yang Anda baca, tangan yang Anda pakai untuk memegangnya. Coba Anda angkat kepala dan lihatlah sekeliling Anda. Pernahkah anda melihat sebuah gambar setajam dan sejelas itu di tempat lain? Bahkan layar TV tercanggih yang dihasilkan oleh pabrik TV terbesar di dunia sekalipun, tidak dapat menghasilkan sebuah gambar yang tajam. Gambar yang didapat dari mata ini adalah gambar tiga dimensi yang berwarna dan sangat tajam. Lebih dari seratus tahun ratusan insinyur telah mencoba mendapatkan ketajaman gambar seperti ini. Pabrik-pabrik dan gedung-gedung raksasa dibangun, banyak riset dilakukan, rencana dan desain telah dibuat untuk tujuan ini. Sekali lagi, lihatlah layar TV dan buku yang Anda pegang. Anda akan melihat ada perbedaan yang sangat mencolok pada ketajaman dan kejelasannya. Terlebih lagi, layar TV hanya dapat memberikan gambar tiga dimensi, sementara dengan mata Anda bisa melihat perspektif tiga dimensi yang memiliki kedalaman.
Selama bertahun-tahun, puluhan dari ratusan insinyur telah mencoba membuat TV tiga dimensi, dan mencapai kualitas gambar seperti yang dihasilkan oleh mata. Ya, mereka berhasil membuat TV tiga dimensi, tetapi tak mungkin melihatnya tanpa menggunakan kacamata. Terlebih lagi, gambar tersebut hanyalah gambar tiga dimensi buatan. Latarnya lebih buram, gambar depannya muncul seperti latar kertas. Tidak mungkin menghasilkan gambar yang tajam dan jelas seperti yang dihasilkan oleh mata. Kamera maupun TV tidak sempurna kualitas gambarnya.
Para evolusionis mengklaim bahwa mekanisme yang memproduksi gambar yang tajam dan jelas ini terbentuk secara kebetulan. Sekarang, jika seseorang mengatakan bahwa TV di ruangan Anda terbentuk secara kebetulan, bahwa semua atom yang membentuknya terjadi begitu saja, bersatu menciptakan alat-alat yang memproduksi gambar ini, bagaimanakah menurut Anda? Bagaimana mungkin atom-atom tersebut melakukan apa yang tidak bisa dilakukan manusia?
Jika sebuah alat yang menghasilkan sebuah gambar saja tidak mungkin terjadi secara kebetulan, maka ini adalah bukti yang sangat kuat bahwa mata dan gambar yang terlihat oleh mata tidak mungkin terbentuk secara kebetulan. Hal yang sama terjadi pada telinga kita. Telinga bagian luar menangkap suara yang ada dengan daun telinga dan mengirimkannya ke telinga bagian tengah, kemudian getaran suara ini dikirimkan dengan menguatkannya. Telinga bagian dalam mengirim getaran ini ke otak dengan menguatkannya menjadi sinyal-sinyal elektrik. Seperti halnya mata, tindakan mendengar berakhir di pusat pendengaran di otak.
Hal yang terjadi pada mata juga terjadi pada telinga. Otak terisolasi dari suara seperti halnya cahaya; tak ada suara di dalam otak. Karena itu, tak peduli betapa bisingnya di luar, di dalam otak benar-benar hening. Meski demikian, suara-suara yang paling tajam diterima di otak. Di dalam otak Anda yang terisolasi dari suara, Anda mendengarkan simfoni sebuah orkerstra, dan semua kebisingan di tempat ramai. Bagaimanapun juga, jika tingkat suara di dalam otak Anda diukur dengan alat pengukur pada saat itu, akan terlihat bahwa otak Anda benar-benar sunyi.
Seperti halnya gambar, telah dilakukan usaha-usaha selama beberapa dekade untuk menghasilkan suara yang benar-benar asli. Hasilnya adalah rekaman suara, sistem rekaman yang sangat teliti dan asli, serta sistem untuk mendeteksi suara. Meskipun semua teknologi ini dan ratusan insinyur serta ahli telah berusaha keras, tak ada satu pun suara yang dihasilkan memiliki ketajaman dan kejernihan suara yang diterima oleh telinga. Coba pikirkan sistem rekaman dengan kualitas terbaik yang dihasilkan perusahaan industri musik terbesar. Bahkan dengan peralatan itu, ketika suara direkam, sebagiannya ada yang hilang. Atau jika Anda menyalakan sebuah rekaman, Anda akan selalu mendengar suara mendesis sebelum musik dimulai. Bagaimanapun, suara-suara yang dihasilkan oleh tubuh manusia benar-benar tajam dan jelas. Telinga manusia tidak pernah menerima suara yang disertai desisan seperti halnya rekaman. Telinga manusia menerima suara tepat seperti suara itu, tajam dan jernih. Demikianlah yang terjadi sejak penciptaan manusia.
Sejauh ini, tak ada alat penghasil gambar dan perekam yang diproduksi manusia memiliki data sensor yang sesensitif dan sehebat mata dan telinga manusia.
Bagaimanapun juga, semakin kita mengamati tindakan melihat dan mendengar, semakin besar fakta yang tersembunyi di balik hal-hal tersebut.
Milik Siapakah Kesadaran yang Melihat dan Mendengar Di dalam Otak?
Siapakah yang mengamati sebuah dunia yang memikat di dalam otak, mendengarkan simfoni dan kicau burung, serta harumnya mawar?
Rangsangan yang datang dari mata, telinga, dan hidung manusia berjalan ke otak sebagai impuls syaraf elektris-kimiawi. Dalam ilmi biologi, psikologi, dan biokimia, Anda dapat menemukan banyak rincian tentang bagaimana gambar buku terbentuk di otak. Anda tidak akan pernah menemukan fakta yang penting tentang hal ini: Siapakah yang menerjemahkan impuls syaraf elektris-kimia ini sebagai gambar, suara, bau, dan peristiwa sensorik di otak? Ada kesadaran di dalam otak yang menyerap semua itu tanpa memerlukan mata, telinga dan hidung. Milik siapakah kesadaran ini? Tak ada lagi keraguan bahwa kesadaran ini bukanlah berada di dalam saraf, lapisan tebal, dan neuron yang membentuk otak. Inilah mengapa materialis-Darwinis yang yakin bahwa segala sesuatu diperbandingkan dengan materi, tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.
Itu karena kesadaran ini adalah ruh yang dicitakan Allah. Ruh yang tidak membutuhkan mata untuk melihat ataupun telinga untuk mendengar suara. Lebih jauh lagi, ruh ini tidak membutuhkan otak untuk berpikir.
Setiap orang yang membaca fakta ilmiah yang jelas ini harus merenungkan kekuasaan Allah, harus takut dan memohon perlindungan pada-Nya. Ia yang memasukkan seluruh alam dalam bentuk tiga dimensi yang berwarna, berbayang dan bercahaya ini dalam sebuah tempat yang sangat gelap sebesar hanya beberapa sentimeter kubik.
Keyakinan Materialis
Informasi yang telah kami sajikan sejauh ini menunjukkan bahwa teori evolusi adalah sebuah penyataan yang jelas terbantah dengan penemuan-penemuan ilmiah. Pernyataan teori ini tentang asal-usul kehidupan adalah tidak sejalan dengan sains. Mekanisme evolusioner yang diajukan tidak memiliki kekuatan evolusi, dan fosil yang menunjukkan bahwa bentuk-bentuk peralihan yang diperlukan oleh teori itu tidak pernah ada. Jadi, teori evolusi haruslah dienyahkan sebagai gagasan yang tidak ilmiah. Karena banyak gagasan seperti model bumi sebagai pusat alam semesta telah dikeluarkan dari agenda ilmiah sepanjang sejarah.
Teori evolusi tetap memaksa untuk menjadi agenda ilmiah. Beberapa orang bahkan mencoba mengajukan kritik untuk menyerang sains. Mengapa?
Alasannya adalah bahwa teori evolusi adalah seluruh keyakinan dogmatis yang sangat diperlukan oleh sebagian orang. Mereka dengan membabi buta mengabdi pada filasafat materialis dan mengadopsi Darwinisme karena itu satu-satunya penjelasan yang dapat dibuat atas pertanyaan keberadaan dan peristiwa alam.
Dengan cukup menarik, mereka juga mengatakan hal itu dari waktu ke waktu. Seorang ahli genetik terkenal dan evolusionis yang vokal, Richard C. Lewontin dari Universitas Harvard menyatakan bahwa dirinya pertama-tama adalah seorang materialis, kemudian seorang "lmuwan".
Bukanlah cara-cara dan institusi-intitusi ilmiah yang mendorong kita untuk menerima penjelasan tentang dunia fenomena, tetapi sebaliknya, kita dipaksa oleh ketaatan kita pada penyebab-penyebab yang bersifat materi untuk menciptakan alat investigasi dan membuat konsep-konsep yang menghasilkan penjelasan-penjelasn yang bersifat material, tak peduli betapa kontra-intuitif dan membingungkannya orang-orang yang belum tahu. Terlebih lagi, bahwa materialisme adalah absolut sifatnya, jadi kita tidak memasukkan Tuhan di dalamnya.20
Ini adalah pernyataan yang eksplisit bahwa Darwinisme adalah dogma yang tetap hidup hanya demi kepatuhan pada filsafat materialis. Dogma ini mempertahankan bahwa tidak ada makhluk yang menolong materi. Karena itu, dogma ini bertahan bahwa materi yang tidak hidup dan tidak memiliki kesadaran telah menciptakan kehidupan. Teori ini tetap "ngotot" bahwa jutaan spesies hidup yang berbeda; misalnya burung, ikan, jerapah, macan, serangga, pohon, bunga, ikan paus, dan manusia berasal dari interaksi antara materi seperti hujan, kilat, dan sebagainya, yaitu berasal dari benda mati. Ini adalah ajaran yang berawanan dengan akal dan sains. Namun Darwinisme tetap membelanya begitu saja demi tidak memasukkan campur tangan Tuhan di dalamnya.
Siapa pun yang tidak melihat asal-usul makhluk hidup dengan prasangka materialis, akan melihat bahwa bukti ini benar. Semua makhluk hidup adalah karya Sang Pencipta Yang Maha Kuasa, Mahabijaksana, dan Maha Mengetahui. Pencipta ini adalah Allah Yang Menciptakan seluruh alam semesta dari ketiadaan, merencanakannya dalam bentuk yang sebaik-baiknya, dan melengkapi semua makhluk hidup.
"Mereka menjawab, 'Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana". (al-Baqarah: 32)



Catatan Kaki
1. Hugh Ross, The Fingerprint of God, p.50
http://www.harunyahya.com/indo/imagesanonym/uparrow.gif
2. Sidney Fox, Klaus Dose, Molecular Evolution and The Origin of Life, W. H. Freeman and Company, San Fransisco, 1972, p.4
http://www.harunyahya.com/indo/imagesanonym/uparrow.gif
3. Alexander I. Oparin, The Origin of Life, Dover Publications, New York, 1936, 1953 (reprint), p. 196.
http://www.harunyahya.com/indo/imagesanonym/uparrow.gif
4. "New Evidence of Evolution of Early Atmosphere and Life", Bulletin of the American Meteorogical Society, vol 63, November 1982, p. 1328-1330.
http://www.harunyahya.com/indo/imagesanonym/uparrow.gif
5. Stanley Miller, Molecular Evolution of Life: Current Status of the Prebiotic Synthesis of Small Molucules, 1986, p.7
http://www.harunyahya.com/indo/imagesanonym/uparrow.gif
6. Jeffrey Bada, Earth, February 1998, p.40.
http://www.harunyahya.com/indo/imagesanonym/uparrow.gif
7. Leslie E. Orgel, "The Origin of Life on Earth", Scientific American, vol 271, October 1994, p. 78.
http://www.harunyahya.com/indo/imagesanonym/uparrow.gif
8. Charles Darwin, The Origin of Species bu Means of Natural Selection, The Modern Library, New York, p. 127.
http://www.harunyahya.com/indo/imagesanonym/uparrow.gif
9. Charles Darwin, The Origin of Species: A Facsimile of the First Edition,Harvard University Press, 1964, p. 184
http://www.harunyahya.com/indo/imagesanonym/uparrow.gif
10. B. G. Ranganathan, Origins?, Pennsylvania: The Banner of Truth Trust. 1988, p.7
http://www.harunyahya.com/indo/imagesanonym/uparrow.gif
11. Charles Darwin, The Origin of Species: A Facsimile of the First Edition, Harvard University Press, 1964, p. 179
http://www.harunyahya.com/indo/imagesanonym/uparrow.gif
12. Derek A. Ager, "The Nature of the Fossil Record", Proceedings of the British Geological Association, vol 87, 1976, p. 133.
http://www.harunyahya.com/indo/imagesanonym/uparrow.gif
13. Douglas Futuyma, Science on Trial, Pantheon Books, New York, 1983, p. 197.
http://www.harunyahya.com/indo/imagesanonym/uparrow.gif
14. Solly Zuckerman, Beyond the Ivory Tower, Toplinger Publications, New York, 1970, p. 75-94; Charles E. Oxnard, "The Place of Australopithecus in Human Evolution: Grounds for Doubt", Nature, vil. 258, p. 389.
http://www.harunyahya.com/indo/imagesanonym/uparrow.gif
15. "Sould Science be Brought to End by Scientist' Belief that they have final answers or by society's Reluctance to Pay the bills?" Scientific American, December 1992, p. 20.
http://www.harunyahya.com/indo/imagesanonym/uparrow.gif
16. Alam Walker, Science, vol. 207, 7 March 1980, p. 11103; A. J. Kelso, Physical Antropology, 1st ed. J. B. Lipincott Co., New York 1970, p. 221; M. D. Leakey, Olduvai Gorge, vol 3, Cambridge University Press, Cambridge, 1971, p. 272.
http://www.harunyahya.com/indo/imagesanonym/uparrow.gif
17. Jeffrey Kluger, "Not So Extinct After All: The Primitive Homo Erectus May Have Survived Long Enough To Coexist With Modern Humans," Time, 23 December 1996.
http://www.harunyahya.com/indo/imagesanonym/uparrow.gif
18. S. J. Gould, Natural History, vol. 85, 1976, p.30.
http://www.harunyahya.com/indo/imagesanonym/uparrow.gif
19. Solly Zuckerman, Beyond the Ivory Tower, p. 19.
http://www.harunyahya.com/indo/imagesanonym/uparrow.gif
20. Richard Lewontin, "The Demon-Haunted World," The New York Review of Books, january 9, 1997, p. 28.
 http://www.harunyahya.com/indo/imagesanonym/uparrow.gif
v

0 komentar:

Go Green Souvenir