TOP NEWS

call center 089631383425/restusouvenir@gmail.com

Sabtu, 24 Agustus 2013

SEJARAH PERADABAN ISLAM “DUNIA ISLAM ABAD XIX DAN XX”



SEJARAH PERADABAN ISLAM
“DUNIA ISLAM ABAD XIX DAN XX”







BAB I
PENDAHULUAN

            Kemenangan dan kekalahan, kemajuan dan kemunduran dikonversikan Tuhan kepada umat manusia, tak terkecuali kepada umat Islam. Itulah undang-undang ‘baja’ sejarah yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun. Sejarah mencatat bahwa, umat Islam pernah menjadi umat yang terdepan dalam segala hal di dunia ini. Umat Islam pernah menjadi kiblat dalam bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan, bidang bangunan dan arsitektur. Bahkan umat Islam pernah menjadi pemimpin dunia dengan luas wilayah kekuasaan yang dimilikinya, terbentang dari Barat ke Timur. Bukan saja wilayah kekuasaannya cuma meliputi Jazirah Arabiyah (tempat diturunkannya agama Islam) tetapi, meliputi sebagian bangsa Eropa, Afrika dan bahkan sampai sebagian besar daratan Asia.
            Seiring dengan berjalannya waktu, umat Islam sedikit demi sedikit mengalami kemunduran. Hal ini mencapai puncaknya ketika adanya serbuan brutal yang dilakukan oleh bangsa Mongol, sebagai mana yang telah dijelaskan pada makalah-makalah sebelumnya. Ditambah lagi ketika bangsa-bangsa Eropa sudah mengalami kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, menggeliatlah usaha-usaha mereka untuk mengadakan ekspansi kekuasaan, serta usaha untuk menguasai bangsa-bangsa lain (termasuk bangsa-bangsa kaum Muslimin) dijadikan sebagai negara jajahan sekaligus sebagai lumbung untuk memperoleh modal guna melakukan pembangunan di negaranya.
            Memasuki periode modern dalam sejarah Islam yang dimulai sekitar tahun 1800 M. Secara politis umat Islam masih dibawah penetrasi kolonialisme. Baru pada pertengahan abad 20 M. dunia Islam bangkit memerdekakan negerinya dari penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Barat. Manipestasi dari kebangkitan dunia Islam tersebut menurut Lothrop, berupa tumbuhnya potensi luar biasa bagi pembentukan dunia baru Islam. (Harun Nasution, 2002 : 88). Sedangkan menurut Badri Yatim, (2008 : 184) kebangkitan dunia Islam adalah bangkitnya nasionalisme di dunia Islam dan tumbuhnya gerakan multi partai yang memperjuangkan kemerdekaan negaranya.
            Latar belakang sehingga munculnya penetrasi dan semangat umat Islam untuk merdeka adalah, karena negara-negara Islam ketika takluk di bawah kekuasaan dan cengkraman negara-negara Eropa, mengalami kemerosotan dan kemunduran dalam berbagai bidang. Terutama dalam bidang politik, sosial, ekonomi serta bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan. Keadaan ini mengakibatkan umat Islam menjadi kelompok marginal dan lepas dari gelanggang perpolitikan dunia, yang tentunya juga sangat sulit untuk bisa tampil kembali mengambil alih kepimpinan dunia.
            Dengan semangat reformasi pada diri umat Islam inilah, mereka menjadikan ‘kejahilan’ Eropa sebagai musuh yang harus ditaklukkan. Semangat seperti ini telah melahirkan kesadaran umat Islam. Kesadaran itu berkembang menjadi gerakan untuk membebaskan diri dari penguasa asing. Gerakan penentuan nasib sendiri dan kemerdekaan mencapai puncaknya sesudah perang dunia II. Menurut Lothrop Stoddard, (1996 : 26) gerakan dan kesadaran nasionalisme bukan sekedar memerangi penjajah. Nasionalisme lebih merupakan bagian terpenting bagi kebangkitan dunia Islam modern menjelma dalam bentuk Negara-negara nasional. Penjajahan dalam arti sempit hanya dalam masa kurang dari setengan abad, lenyap di dunia Islam. Beberapa bagian wilayah dunia yang amat strategis dan merupakan garis hidup (life-line) bagi Negara-negara industri Barat kini ditempati oleh umat Islam yang merdeka dan berdaulat. (Muhammad Nasir, 1974 : 24).
Terlepas dari uraian tersebut di atas, dunia Islam hingga masa kini masih tergolong terbelakang  terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun dibalik keterbelakangannya, dunia Islam mempunyai potensi. Dengan jumlah penduduk cukup signifikan, merupakan potensi besar untuk dapat bangkit kembali dan memimpin peradaban dunia dalam berbagai bidang.










BAB II
ISI
A.    Latar Belakang Abad XIX dan XX
Kejayaan dan kecermelangan dunia Islam kian lama semakin menurun yang pada akhirnya memudar. Eropa pada abad ke-16 dan 17 M mulai bangkit meninggalkan masa kegelapannya menuju zaman modern. Mereka mengembangkan sains dan teknologi yang telah dipelajarinya dari dunia Islam, khususnya di universitas-universitas Cordova, Granada, Seville, dan Toledo. Mereka bukan saja memindahkan filsafat dan sains yang dikembangkan ilmuwan Muslim ke Eropa melalui penerjemahan buku-buku berbahasa Arab ke dalam bahasa Latin, namun yang terpenting adalah mengadopsi pemikiran rasional Islam menggantikan pemikiran dogmatis yang dikembangkan gereja. Hal inilah yang membawa kepada timbulnya Renaisance di Eropa. Selanjutnya di Eropa terjadi revolusi industri, dengan ditemukannya mesin uap yang mendorong mereka untuk menjelajahi samudera (dunia) agar menguasai jalur perdagangan internasional.
Dengan pengetahuan yang diperoleh dari dunia Islam bahwa bumi itu bundar, mereka menginginkan sumber rempah-rempah dan sutera dari timur, tidak hanya melalui Timur Tengah namun juga bisa melalui jalan barat dan selatan. Dalam pelayarannya ke arah barat, Columbus menemukan benua Amerika pada tahun 1492 M. Tanjung Harapan di Afrika Selatan sebagai jalur alternatif perdagangan ke Timur Jauh ditemukan oleh Vasco  da Gama pada tahun 1498 M. Terjadinya dagang langsung antara Timur Jauh dan Eropa melalui Tanjung Harapan, ekonomi Islam kehilangan sumber dan dengan sendirinya menurun tajam. Eropa pun mengangkut kekayaan dari benua Amerika yang luas dan kaya akan sumber daya alamnya. Dengan dua penemuan itu, mereka mencapai kemajuan dalam bidang ekonomi sehingga dalam sekejap Eropa menjadi penguasa laut dan dunia.
Portugis merupakan kekuatan Kristen Eropa pertama yang menentang supremasi maritim Islam di laut Arab dan samudera India. Tahun 1509 M, mereka mengalahkan dan menghacurkan persekutuan armada Islam termasuk armada Mesir dekat Diu, di barat pantai India.[1] Oleh karena itu, dunia Islam mengalami kejatuhan politis, ekonomis dan intelektual sehingga perdagangan Arab (dunia Islam) menjadi lumpuh. Kaum Muslimin tidak menyadarinya, bahkan imperium Turki Utsmani, Safawi, dan Mughal tidak mengambil langkah-langkah terhadap situasi ini. Dengan lumpuhnya perdagangan laut, akhirnya menimbulkan perbudakan (kolonialisasi) di seluruh dunia Islam, baik secara langsung atau pun tidak langsung.[2]
Di Eropa, sains dan teknologi berkembang pesat, namun di dunia Islam tidak ada lagi sains dan teknologi. Pemikiran rasional dan orientasi akhirat sehingga tidak bisa mengembangkan sains dan teknologi. Dengan keunggulan sains dan teknologi modern yang dimiliki Barat maka dunia Islam selalu mengalami kekalahan dalm setiap peperangan, disebabkan menggunakan persenjataan yang masih tradisional. Spanyol dan Portugal melawan dunia Islam sebagai balas dendam terhadap umat Islam yang menguasai wilayahnya lebih dari 700 tahun. Di Timur Jauh, Spanyol dan Portugal dapat menjajah beberapa daerah seperti Filipina oleh Spanyol dan Timor-Timur oleh Portugal.[3]
Abad ke-18 terjadi pembalikan sejarah dunia, dunia Islam yang sebelumnya menjadi adikuasa, kini giliran Eropa yang menguasai dan mendominasi dunia Islam dalam berbagai bidang kehidupan yang meliputi sains, teknologi, ekonomi, politik, dan militer. Bagi Islam, abad ke-18 ini merupakan zaman kebangkitan. Ekspedisi Napoleon Bonaparte atas Mesir (1798-1801) telah membuka mata dunia Islam, terutama Turki dan Mesir, akan kemunduran dan kelemahan umat Islam di samping kemajuan dan kekuatan Barat. Raja dan para pemuka Islam mulai berfikir dan mencari jalan untuk mengembalikan balance of power, yang telah pincang dan membahayakan Islam. Melihat Barat maju, umat Islam pun belajar ke sana sehingga timbul pemikiran dan aliran pembaruan atau modernisasi dalam Islam. Pemuka-pemuka Islam mengeluarkan pemikirannya agar umat Islam maju lagi sebagaimana periode klasik. Usaha-usaha ke arah itu terus digalakkan umat Islam, namun Barat pun semakin maju. Selanjutnya, abad ke-19 terjadi penetrasi[4] kolonial Barat atas dunia Islam dan abad ke-20 umat Islam berusaha membebaskan diri dari penjajahan Eropa.

B.     Penetrasi Kolonial Barat atas Dunia Islam
Abad ke-19 merupakan abad kemajuan kolonialisme Barat yang melanda hampir di semua belahan dunia Islam. Penetrasi kolonial Barat yang melibatkan banyak negara Eropa berkembang sangat pesat. Dunia Islam tidak hanya dipecah-pecah, namun juga menjadi mangsa politik dan ekonomi. Mereka menguasai politik dunia Islam dan mengeksploitasi kekayaan alam yang ada di dalamnya dengan begitu cepat. Dunia islam tidak berdaya mengahadapi penetrasi kolonial Barat sehingga hampir seluruh dunia Islam menjadi daerah jajahan mereka. Hanya empat negara Islam saja yang tidak dikuasai mereka yaitu Turki, Saudi Arabia, Afghanistan dan Yaman.[5]
Dalam kurun waktu tiga puluh tahun terakhir di abad ke-19, Inggris wilayahnya bertambah menjadi 5 juta mil persegi dan penduduk sebanyak 88 juta jiwa. Pada tahun 1900 M, wilayahnya meliputi seperlima luas dunia dan memerintah 400 juta jiwa. Imperium Perancis berkembang dari 700 ribu menjadi 8 juta mil persegi dan penduduk dari 5 juta jiwa menjadi 52 juta jiwa. Jerman yang tidak memiliki imperium, menguasai 1 juta mil persegi dan penduduk koloni 14 juta jiwa pada tahun 1900 M. Selama 10 tahun (1841-1851M), Inggris telah memperoleh New Zealand, Pantai Emas (Gold Coast), Labuan, Natal, Punjab, Sind, dan Hongkong. Pada tahun 1870 M, hanya sepersepuluh luas benua Afrika di bawah kendali Eropa. Namun, pada tahun 1900 M, tinggal sepersepuluhnya saja yang tetap berstatus merdeka.[6]
Lebih rincinya, Inggris berhasil menguasai wilayah India, Asia, dan Afrika yaitu dengan menaklukkan Malaka (1811 M), Oman dan Qatar (1820 M), Aden (1839M), India (1857 M), Mesir (1882 M), Sudan (1890 M), dan Buluchistan (1899 M). Bahkan pada abad ke-20, koloni Inggris telah mencakup kesultanan Muslim di Nigeria Utara (1906 M) dan Kuwait (1914 M).[7] Perancis menguasai Mesir tahun 1798 M, Aljazair tahun 1830 M, Tunisia tahun 1881 M, dan Maroko tahun 1912 M. Rusia menguasai wilayah Azov tahun 1775 M, Bessarabia tahun 1812 M, dan berikutnya Azerbaijan, Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan, Tadzhikistan, dan Kirgiztan. Austria menguasai Hongaria dan Transilvania. Ada pula beberapa negara bagian yang melepaskan diri dari Turki Utsmani yaitu Yunani tahun 1830 M, Bosnia, Rumania, Bulgaria, Serbia, dan Montenegro pada tahun 1878 M. Indonesia pun tak luput dari penjajahan Barat, khususnya Belanda yang pertama kali datang tahun 1595 M dengan kompeni dagangnya VOC. Sejak abad ke-17, VOC memonopoli perdagangan di Nusantara dan abad ke-18 VOC berhasil memegang hegemoni politik di Pulau Jawa dengan perjanjian Giyanti tahun 1755 M.[8]
Akibat keikutsertaan Turki Utsmani dalam PD I yang bersekutu dengan Jerman maka tahun 1920 negara-negara sekutu mengintervensi kerajaan tersebut dan menghasilkan sejumlah negara dengan bangsa yang modern. Di bawah perjanjian Sevres, Inggris dan Perancis menyusun sistem mandat yang menyerahkan Palestina di bawah kekuasaan Inggris (termasuk Yordan modern) dan Irak; Perancis memerintah Syria (termasuk Lebanon modern); sementara Hijaz (bagian Arab Saudi) tetap merdeka.
Adanya penetrasi kolonial Barat terhadap dunia Islam pada abad ke-19 disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internalnya meliputi:
1.      Politik umat Islam mengalami kemunduran sejak abad ke-17. Adikuasa Turki Utsmani yang wilayahnya cukup luas tanpa didukung oleh kemajuan di bidang ekonomi, sains, dan teknologi tidak mampu mempertahankan kekuasaan politiknya. Turki Utsmani pada tahun 1571 M mengalami kekalahan di Lepanto, tahun 1683 M gagal memasuki wina ibukota Austria, tahun 1699 M harus menandatangani perjanjian Karlowitz yang harus menyerahkan sebagian wilayahnya antara lain Hongaria kepada Austria, Podolia kepada Polandia, dan Avos kepada Rusia. Tahun 1718 M, Turki Utsmani kehilangan Crimea, tahun 1798 M Napoleon Bonaparte menduduki Mesir dan bergerak menuju Palestina. Masa itu, Turki Utsmani dikenal dengan “The Sick man of Europe”.[9] Yunani memperoleh kemerdekaannya kembali tahun 1829 M dan Rumania pun lepas tahun 1856 M. Adikuasa lainnya, Safawi dan Mughal sudah melemah karena kepemimpinan politiknya tidak kuat lagi.
2.      Ekonomi dunia Islam mengalami kemunduran akibat besarnya biaya anggaran militer untuk memepertahankan wilayah kekuasaan yang luas. Di samping itu, dunia Islam mulai kehilangan sumber pendapatan dari jalur perdagangan Timur Tengah akibat ditemukannya jalur baru yaitu Tanjung Harapan. Penguasa dunia Islam bergelimpang harta dan hidup berfoya-foya menyalahgunakan uang negara, turut memperburuk keadaan ekonomi.
3.      Pemikiran tradisional berkembang di dunia Islam. Pemikiran rasional dan filosofis tidak lagi menjadi tradisi di kalangan umat Islam sehingga mereka tidak mampu mengembangkan sains dan teknologi. Mereka menutup pintu ijtihad dan berorientasi kepada kehidupan akhirat dengan sikap taklid. Sistem pendidikan pun cenderung menekankan pada pengajaran ilmu-ilmu agama daripada ilmu-ilmu umum (sains dan teknologi). Dunia Islam mengalami kemerosotan di bidang peradaban disebabkan ditinggalkannya tradisi pemikiran rasional dan filosofis yang digantikan dengan pemikiran tradisional.
Sementara itu, faktor eksternal penyebab penetrasi kolonial Barat terhadap dunia Islam abad ke-19 meliputi:
1.    Ekonomi Barat mengalami kemajuan. Berkat ilmu yang didapat dari dunia Islam, mereka mampu mengembangkan sains dan teknologi, antara lain melahirkan dan mengembangkan industri. Industri membutuhkan bahan baku, rempah-rempah, dan perlu wilayah untuk memasarkan produknya. Mereka mencari terobosan-terobosan baru untuk menguasai jalur perdagangan yang menguntungkan. Dengan ditemukannya Tanjung Harapan dan Benua Amerika, amat berarti bagi mereka namun sangat merugikan dunia Islam. Eropa semakin menumbuhkan semangat ekspansif dan penetratif ke dalam dunia Islam. Mereka mengeksploitasi dan menguras kekayaan alam serta memeras sumber daya manusia di daerah yang dikuasainya.
2.      Politik/penguasaan wilayah akan memudahkan penguasa kolonial melakukan hubungan dagang dan monopoli. Stabilitas politik dalam negara jajahan diperlukan untuk memperlancar eksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia serta mempertahankan kepentingan ekonomi dari gangguan rekan koloni lainnya. Barat pun tak jarang campur tangan dalam negeri pribumi dan melakukan tekanan politik. Misalnya di Indonesia, Belanda melakukan politik “Devide et Impera” (adu domba) untuk melemahkan persatuan dan kesatuan sehingga dapat melanggengkan kekuasaan dan pemerasan ekonomi.
3.      Pemikiran rasional berkembang di Barat yang berasal dari dunia Islam terutama dari universitas-universitas yang ada di Spanyol dan Sicilia. Dengan metode berfikir yang rasional dan filosofis ini, Barat mampu mengembangkan sains dan teknologi sehingga menemukan berbagai penemuan, revolusi industri, dan penguasaan jalur dagang internasional.
Adapun bentuk penetrasi kolonial Barat terdiri dari tiga macam[10] yaitu : 1) Penetrasi daerah-daerah yang baru ditemukan dan berpenduduk sedikit seperti Kanada, Amerika, Australia, dan New Zealand. Penduduk asli segera berubah status menjadi budak, sementara orang-orang Eropa datang untuk menguasai tanah yang lebih luas dan sekaligus menjadikannya sebagai tempat pemukiman mereka. 2) Kawasan-kawasan yang cuacanya sesuai untuk orang Eropa (Barat) seperti Aljazair, Afrika Selatan, dan Rhodesia. Selama masa penjajahan, seluruh tradisi dan lembaga di Aljazair diganti sepenuhnya oleh budaya, bahasa dan kebiasaan Perancis. 3) Daerah-daerah yang dianggap tidak cocok untuk dijadikan tempat pemukiman bagi orang-orang Eropa, daerah terbesar koloni, berlangsung penindasan yang mengerikan serta penghancuran atas lembaga dan tradisi pribumi. Contohnya, pemberlakuan hukum Inggris, dan pemakaian bahasa Inggris secara meluas; menimbulkan efek yang amat dahsyat pada kehidupan masyarakat.
Penetrasi kolonial Barat berdampak negatif terhadap dunia dan umat Islam dalam berbagai bidang kehidupan: politik, ekonomi, budaya, agama, sosial, dan lainnya. Pemerintah kolonial telah melumpuhkan masyarakat muslim, membekukan pemikiran, dan menguburkan kejayaan Islam masa lalu. Umat Islam menjadi terpuruk dalam kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan.
C.    Pembebasan Diri dari Kolonialisme Barat
Pada permulaan abad ke-20 kekuatan Eropa hampir telah menguasai seluruh dunia Islam. Hal ini disebabkan karena dengan didukung pertumbuhan produksi pabrik dalam skala dan perubahan yang sangat besar serta metode komunikasi dengan ditemukannya kapal uap, kereta api dan telegrap, sehingga Eropa telah siap untuk melakukan ekspansi perdagangan ke seluruh dunia.
Ekspansi yang dilakukan bangsa Barat ke dunia Islam dimulai ketika menghadapi kerajaan Turki Utsmani sebagai benteng pertahanan Islam yang pertama kali harus di runtuhkan. Dengan adanya dorongan pasca Perang Salib maka dilakukanlah imperialisme pada Turki Utsmani sampai mengalami kemunduran bahkan kekalahan. Sementara pasca runtuhnya Turki Utsmani, kehidupan bangsa-bangsa Barat mengalami kemajuan di segala bidang, seperti perdagangan, ekonomi, industri perang dan teknologi militer.
Agresi yang dilakukan bangsa kolonial itu dimulai saat terjadinya perjanjian Caritouiz, 26 Januari 1699 M, antara Turki Usmani dengan Australia, Rusia, Polandia, dan Inggris. Negara-negara tersebut secara tidak langsung ingin meruntuhkan kejayaan Turki Utsmani melalui gerakan imperealisme dengan melakukan pembagian wilayah kekuasaan untuk mereka miliki. Dengan adanya perjanjian tersebut Turki Usmani menjadi negara yang kecil dan tidak berdaya untuk melakukan pembebasan dari kolonilalisme barat, dan semenjak Turki Utsmani runtuh maka sejak itulah abad modern dimulai.
Terjadinya penetrasi kolonial Barat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Disatu sisi kekuatan militer dan politik negara-negara muslim menurun, perekonomian mereka merosot sebagai akibat monopoli perdagangan antara timur dan barat tidak lagi ditangan mereka. Disamping itu pengetahuan di dunia muslim dalam kondisi stagnasi. Tarekat-tarekat diliputi oleh suasana khurafat dan supertisi. Umat Islam dipengaruhi oleh sikap fatalistik.[11]
Pada sisi yang lain, Eropa dalam waktu yang sama menggunakan metode berpikir rasional, dan disana tumbuh kelompok intelektual yang melepaskan diri dari ikatan-ikatan Gereja; Barat memasuki abad renaisance. Sementara dalam bidang ekonomi dan perdagangan mereka telah mengalami kemajuan pesat dengan ditemukannya Tanjung Harapan sebagai jalur perdagangan maritim langsung ke Timur, demikian pula penemuan benua Amerika. Dengan dua temuan ini Eropa memperoleh kemajuan dalam dunia perdagangan karena tidak  bergantung  lagi kepada jalur lama yang dikuasai Islam.[12]
Benturan-benturan antara Islam dan kekuatan Eropa telah menyadarkan umat Islam bahwa mereka memang jauh tertinggal dari Eropa. Yang pertama merasakan hal itu diantaranya Turki  Utsmani,  karena  kerajaan  ini  yang  pertama  menghadapi  kekuatan Eropa. Kesadaran itu memaksa penguasa dan pejuang-pejuang Turki banyak belajar dari Eropa. Pada pertenganahan abad ke-20 M Dunia Islam bangkit memerdekakan negerinya dari penjajahan Barat. Periode ini merupakan zaman kebangkitan kembali Islam, setelah mengalami kemunduran di periode pertengahan.
Dengan demikian yang dimaksud dengan kebangkitan Islam adalah kristalisasi kesadaran keimanan dalam membangun tatanan seluruh aspek kehidupan yang berdasar atau yang sesuai dengan prinsip Islam. Makna ini mempunyai implikasi kewajiban bagi umat  Islam  untuk  mewujudkannya  melalui  gerakan-gerakan,  baik  di  bidang  politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
Pada permulaan abad ini tumbuh kesadaran nasionalisme hampir disemua negeri muslim yang menghasilkan pembentukan negara-negara nasional. Tetapi persoalan mendasar yang dihadapi adalah keterbelakangan umat Islam, terutama menyangkut kemampuan menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai alat paling penting dalam mempertahankan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tanpa mengenyampingkan agama, politik dan ekonomi. Upaya kearah itu tidak lepas dari   pembaharuan pemikiran  yang dapat mengantarkan Islam terlepas dari cengkraman kolonialisme Barat.
Dunia Islam abad XX ditandai dengan kebangkitan dari kemunduran dan kelemahan secara budaya maupun politik setelah kekuatan Eropa mendominasi mereka. Eropa bisa menjajah karena keberhasilannya dalam menerapkan strategi ilmu pengetahuan dan teknologi serta mengelola berbagai lembaga pemerintahan. Negeri-negeri Islam menjadi jajahan Eropa akibat keterbelakangan dalam berbagai aspek kehidupan.
Keunggulan-keunggulan Barat dalam bidang industri, teknologi, tatanan politik, dan militer tidak hanya  menghancurkan  pemerintahan  negara-negara muslim yang ada pada waktu itu, tetapi lebih jauh dari itu, mereka bahkan menjajah negara-negara muslim yang ditaklukkannya, sehingga pada penghujung abad XIX hampir tidak satu negeri muslim pun yang tidak tersentuh penetrasi kolonial Barat. Sebagaimana diketahui   bahwa pada tahun 1798 M, Napoleon Bonaparte menduduki Mesir. Walaupun pendudukan Perancis itu berakhir dalam tiga tahun, mereka dikalahkan oleh kekuatan Angkatan Laut Inggris, bukan oleh perlawanan masyarakat muslim. Hal ini menunjukkan ketidakberdayaan Mesir sebagai salah satu pusat Islam untuk menghadapi kekuatan Barat.
Sejak Napoleon menduduki Mesir, umat Islam mulai merasakan dan sadar akan kelemahan dan kemundurannya, sementara mereka juga merasa kaget dengan kemajuan yang telah dicapai Barat. Gelombang ekspansi Barat ke negara-negara Muslim yang tidak dapat dibendung itu memaksa para pemuka Islam untuk mulai berpikir guna merebut kembali kemerdekaan yang dirampas. Salah seorang tokoh yang pikirannya banyak mengilhami gerakan-gerakan kemerdekaan adalah Sayyed Jamaluddin Al Afghani. Ia dilahirkan pada tahun 1839 di Afghanistan dan meninggal di Istambul 1897.[13] Pemikiran dan pergerakan yang dipelopori Afghani ini disebut Pan-Islamisme, yang  dalam  pengertian  luas  berarti  solidaritas  antara seluruh umat muslim di dunia internasional. Tema perjuangan yang terus menerus dikobarkan oleh Afghani dalam kesempatan apa saja adalah semangat melawan kolonialisme dengan berpegang kepada tema-tema ajaran Islam sebagai stimulasinya.
Murtadha Muthahhari menjelaskan bahwa diskursus tema-tema itu antara lain diseputar, perjuangan  melawan absolutisme  para  penguasa, melengkapi sains dan teknologi modern, kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya, Iman dan keyakinan aqidah, perjuangan melawan kolonial asing, Persatuan Islam, menginfuskan semangat perjuangan dan perlawanan kedalam tubuh masyarakat Islam yang sudah separo mati dan perjuangan melawan ketakutan terhadap Barat.[14]
Disamping Afghani, terdapat dua orang ahli pikir Arab lainnya yang telah mempengaruhi hampir semua pemikiran politik Islam pada masa berikutnya. Dua pemikir itu adalah Muhammad Abduh (1849-1905) dan Rasyid Ridha (1865-1935). Mereka sangat dipengaruhi oleh gagasan-gagasan guru mereka yakni Afghani, dan berkat mereka berdualah pengaruh Afghani diteruskan untuk mempengaruhi perkembangan nasionalisme Mesir. Seperti halnya Afghani dan Abduh, Ridha percaya bahwa Islam bersifat politis, sosial dan spiritual. Untuk membangkitkan sifat-sifat tersebut, umat Islam mesti kembali kepada Islam yang sebenarnya sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi dan para sahabatnya atau para salafiah. Untuk menyebarkan gagasan-gagasannya ini Ridha menuangkannya dalam bingkai tulisan-tulisan yang terakumulasi dalam majalah Al Manar yang dipimpinnya.
Di daratan Eropa, Syakib Arsalan selalu memotori gerakan-gerakan guna kemerdekaan Arab. Misi Arsalan adalah menginternasionalkan berbagai masalah pokok yang dihadapi negara-negara muslim Arab yang berasal dari kekuasaan negara-negara  Barat  dan  menggalang  pendapat  seluruh  orang  Islam  Arab sehingga membentuk berdasarkan ikatan keIslaman, mereka dapat memperoleh kemerdekaan dan memperbaiki tata kehidupan sosial yang lebih baik.[15]
Gerakan kemerdekaan yang dilakukan oleh umat Islam selalu kandas ketika berhadapan  dengan  kolonialis  Barat, karena teknologi dan militer mereka jauh lebih maju  dari yang  dimiliki umat Islam.  Menurut  Afghani,  untuk menanggapi tantangan Barat, umat Islam harus mempelajari contoh-contoh darinya.[16] Tentu saja tidak semua komunitas Islam sependapat dengan yang dimaksud belajar atau berguru kepada Barat. Para ulama tradisional tetap mempertahankan corak non-koperatifnya,  sementara  putra-putra  negeri  jajahan gelombang demi gelombang belajar kepada penjajah atau di sekolah-sekolah yang sengaja diadakan di negeri jajahannya. Dengan demikian, terdapat dua kelompok pejuang kemerdekaan dengan basisnya masing-masing, ada yang sifatnya non-koperatif yang basisnya lembaga-lembaga pendidikan agama di Indonesia pesantren, sedang di Asia Tengah dan Barat serta Afrika basisnya pada kelompok-kelompok tarekat dan yang bercorak kooperatif yaitu pakar terpelajar dengan pendidikan Barat.
Pada pertengahan pertama abad XX terjadi perang dunia kedua yang melibatkan seluruh negara kolonialis. Seluruh daratan Eropa dilanda peperangan, disamping Amerika, Rusia dan Jepang. Kecamuk perang ini disatu sisi melibatkan Jepang, Hitler dengan Nazi Jermannya, dan Mussolini dengan Fasis Italianya, dan disisi lain terdapat Inggris, Perancis, dan Amerika yang bersekutu, serta Rusia. Konsekuensi atas terjadinya peperangan ini adalah terpusatnya konsentrasi kekuatan militer di kubu masing-masing negara, baik untuk keperluan ofensif maupun  defensif. Pengkonsentrasian  kekuatan  militer  tersebut  mengakibatkan ditarik dan berkurangnya kekuatan militer kolonialis dinegeri-negeri jajahan mereka. Dalam pada itu, negara muslim tidak terlibat langsung dalam perang dunia kedua sehingga pemikiran mereka waktu itu terkonsentrasi pada perjuangan untuk kemerdekaan negerinya masing-masing, dan kondisi dunia yang berkembang pada saat itu memungkinkan tercapainya cita-cita luhur tersebut. Mulai saat itu negara-negara muslim yang terjajah memproklamirkan kemerdekaannya.
Usaha untuk memulihkan kembali kekuatan Islam pada umumnya yang dikenal dengan gerakan  pembaharuan didorong  oleh dua faktor yang saling mendukung, yaitu pemurnian ajaran Islam dari unsur-unsur asing yang dipandang sebagai penyebab kemunduran Islam, dan menimba gagasan-gagasan pembaharuan dan ilmu pengetahuan dari Barat. Gerakan pembaharuan itu dengan segera  juga memasuki  dunia  politik, karena Islam memandang tidak bisa dipisahkan dengan politik. Gagasan politik yang pertama  kali muncul adalah gagasan Pan-Islamisme yang mula-mula didengungkan oleh gerakan Wahabiyah dan Sanusiah. Namun, gagasan ini baru disuarakan dengan lantang oleh tokoh pemikir Islam terkenal, Jamaluddin Al Afghani (1839-1897 M).[17]
Jika di Mesir bangkit dengan nasionalismenya, dibagian negeri Arab lainnya lahir gagasan nasionalisme Arab yang segera menyebar dan mendapat sambutan hangat, sehingga nasionalisme itu terbentuk atas dasar kesamaan bahasa. Demikianlah yang terjadi di Mesir, Syria, Libanon, Palestina, Irak, Hijaz, Afrika Utara, Bahrein, dan Kuweit. Di India, sebagaimana di Turki dan Mesir gagasan Pan-Islamisme  yang  dikenal  dengan gerakan Khilafat  juga  mendapat  pengikut, pelopornya  adalah  Syed  Amir  Ali (1848-1928  M).  Gagasan itu tidak mampu bertahan lama,karena terbukti dengan ditinggalkannya gagasan-gagasan tersebut oleh sebagian besar tokoh-tokoh Islam. Maka, umat Islam di anak benua India ini tidak menganut  nasionalisme,  tetapi  Islamisme  yang  dalam  masyarakat  India dikenal dengan nama komunalisme.
Sementara di Indonesia, partai politik besar yang menentang penjajahan adalah Sarekat Islam (SI), yang didirikan pada tahun 1912 dibawah pimpinan HOS Tjokroaminoto. Partai ini merupakan kelajutan dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh H. Samanhudi pada tahun 1911. Tidak lama kemudian, partai- partai politik lainnya berdiri seperti Partai Nasional Indonesia (PNI) didirikan oleh Soekarno, Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Baru), didirikan oleh Muhammad Hatta (1931),  Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI)  yang  baru menjadi  partai politik pada tahun 1932, dipelopori oleh Mukhtamar Luthfi.[18]
Munculnya gagasan nasionalisme yang diikuti dengan berdirinya partai-partai politik merupakan modal utama   umat Islam dalam perjuangannya untuk mewujudkan negara merdeka yang bebas dari pengaruh politik Barat, dalam kenyataannya, memang partai-partai itulah yang berjuang melepaskan diri dari kekuasaan penjajah. Perjuangan mereka biasanya teraplikasi dalam beberapa bentuk kegiatan, seperti gerakan politik, baik dalam bentuk diplomasi maupun dalam bentuk pendidikan dan propaganda yang tujuannya adalah mempersiapkan masyarakat untuk menyambut dan mengisi kemerdekaan.
Adapun Negara berpenduduk mayoritas muslim yang pertama kali berhasil memproklamasikan  kemerdekaannya adalah Indonesia, yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945. Indonesia merdeka dari pendudukan Jepang setelah Jepang dikalahkan oleh tentara sekutu. Akan tetapi, rakyat Indonesia  harus mempertahankan kemerdekaannya itu dengan perjuangan bersenjata selama lima tahun berturut-turut karena Belanda yang didukung oleh tentara sekutu berusaha menguasai kembali kepulauan ini.
Negara Islam kedua yang merdeka dari penjajahan adalah Pakistan, yaitu pada tanggal 15 Agustus 1947 ketika Inggris menyerahkan kedaulatannya di India kepada dua Dewan Konstitusi, satu untuk India dan satu untuk Pakistan (pada waktu itu terdiri dari Pakistan dan Bangladwesh sekarang). Presiden pertamanya adalah Ali Jinnah.
Di Timur Tengah, Mesir misalnya, secara  resmi  memperoleh  kemerdekaannya  dari  Inggris  pada  tahun 1922. Akan tetapi, pada saat kendali pemerintahan dipegang oleh Raja Faruk pengaruh  Inggris  sangat  besar.  Baru  pada  masa  pemerintahan  Gamal  Abd  al-Nasser yang menggulingkan raja Faruk 23 Juli 1952, Mesir menganggap dirinya benar-benar merdeka.
Sebagaimana halnya seperti Mesir, Irak merdeka secara formal tahun 1932, namun rakyatnya baru benar-benar merasakan merdeka tahun 1958. Sebelumnya, negara-negara yang telah mengumumkan kemerdekaanya adalah Syria, Yordania, dan Libanon pada tahun 1946.
Di Afrika, Lybia merdeka tahun 1951, Sudan dan Maroko tahun 1956, dan Aljazair tahun 1962. Semuanya membebaskan diri dari Perancis. Di dalam waktu yang hampir bersamaan, Yaman Utara, Yaman Selatan, dan Emirat Arab memperoleh kemerdekaannya pula.
Di Asia Tenggara, Malaysia yang waktu itu termasuk Singapura, mendapat kemerdekaan dari Inggris tahun 1957, dan Brunei Darussalam tahun 1984. Beberapa diantaranya baru mendapat kemerdekaan pada tahun-tahun terakhir, seperti negara-negara Islam yang dulunya bersatu dengan Uni Soviet, yaitu Uzbekistan, Turkmenistan, Kirghiztan, Kazakhstan, Tadzhikistan dan Azerbaizan pada tahun 1992, dan Bosnia memerdekakan diri dari Yugoslavia pada tahun 1992.
Hingga saat ini, masih ada umat Islam yang berharap mendapatkan otonomi sendiri atau paling tidak menjadi penguasa atas masyarakat mereka sendiri. Mereka itu adalah penduduk minoritas muslim dalam negara-negara nasional seperti Kashmir di India, kaum Moro di Filipina, dan sebagainya. Meski mereka hidup dalam negara merdeka, namun status minoritas seringkali menyulitkan mereka dalam meningkatkan kesejahteraan hidup.[19]
Namun banyaknya polemik yang berkembang dengan keinginan-keinginan umat Islam untuk memerdekakan diri dari tekanan dan pengaruh hegemoni bangsa barat terlepas dari persoalan semangat menanamkan nilai-nilai Nasionalisme dalam diri umat Islam seperti yang dicetuskan oleh Jamal al-Afghani untuk memperjuangkan kejayaan kembali Islam di mata dunia, di lain hal adanya gerakan-gerakan fundamental untuk mendirikan Negara Islam yang bukannya memberikan sumbangan besar bagi Islam, melainkan menjadi suatu kesempatan bagi bangsa Barat untuk memperalat dan bahkan mengadu domba antar kelompok-kelompok dalam Islam.[20]
Sekiranya perlu ada suatu sikap dan mental keberanian yang sejati untuk mencapai kemenangan Islam, bukan sekedar dijejali mental Inlander yang berdampak pada kezumudan untuk berfikir dan berjuang melawan daya pengaruh global yang didominasi bangsa-bangsa Barat. Untuk mendapatkan kemenangan Islam diperlukan ada kemenangan ide, cita-cita, sikap hidup yang tidak selalu menyoroti kemenangan atas pribadinya,[21] melainkan kemenangan Islam adalah kemenangan seluruh umat beserta sistem yang ada di dalamnya.
Kecaman demi kecaman yang dilakukan bangsa Barat terhadap Islam telah banyak menghegemoni pemikiran bahkan kekuasan politik ekonomi setiap negara-negara Islam di dunia.[22]Hal yang perlu dibenahi dan belum sepenuhnya utuh terwujud adalah pembentukan pola pikir umat Islam agar memiliki bentuk yang jelas dan terarah bagi kemenangan Islam itu sendiri.


















BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
1.      Faktor yang melatar belakangi bangkitnya kembali dunia Islam abad XIX-XX adalah:
a.       Kesadaran kaum muslimin terhadap penyimpangan yang terjadi dalam ajaran agamanya,   yang kemudian melahirkan usaha pemurnian dan pembaharuan terhadap ajaran-ajaran Islam.
b.      Keterbelakangan yang dirasakan oleh umat Islam dalam bidang politik, sosial, ekonomi, budaya, serta ilmu pengetahuan dan teknologi, menumbuhkan semangat umat Islam untuk belajar terhadap bangsa Barat agar dapat mengejar ketertinggalannya tersebut.
c.       Terjadinya kontak antara dunia Islam dengan dunia Barat, melahirkan pemahaman baru dikalangan umat Islam, untuk dapat mencoba mentolerir segala sesuatu yang datang dari dunia Barat.
2.      Upaya perlawanan yang dilakukan oleh umat Islam terhadap kolonialisme, terdiri atas dua bagian yaitu :
a.       Perlawanan dengan jalan “Jihad” dalam artian bahwa umat Islam melakukan perlawanan secara fisik (berperang) melawan bangsa Koloni.
b.      Perlawanan dengan jalan damai, yakni melakukan rekonstruksi dan perbaikan-perbaikan sistem politik sebagai alat perjuangan dalam memperoleh kemerdekaan.
3.      Pengaruh semangat nasionalisme dalam usaha memerdekakan negara-negara Islam sangat besar. Dengan semangat nasionalisme yang dimiliki,  umat Islam kemudian termotivasi dalam melakukan perlawanan terhadap bangsa kolonial sehingga satu demi satu negara-negara Islam dapat merdeka dari tangan penjajah.
           






DAFTAR PUSTAKA
Ø  Gauhar al-Taf. 1988. Imperialisme Barat: Masalah Lama, Tantangan Baru dalam Perspektif Muslim tentang Perubahan Sosial, Terj. A. Nasir Budiman. Bandung: Pustaka.
Ø  G.H. Jansen. 1979. Militan Islam. London: Van Books.
Ø  I.H. Qureshi. 1982. Islam dan Barat di Masa Lampau, di Masa Sekarang, dan di Masa Mendatang, Terj. Anas Mahyuddin, Bandung.
Ø  Madjid, Nurcholis. 2008. Pintu-pintu Menuju Tuhan. Jakarta : Paramadina.
Ø  Madjid, Nurcholis. 2000. Islam Agama Peradaban. Jakarta: Paramdina.
Ø  Mortimer, Edward. 1984. Islam dan Kekuasaan, Terj. Enna Hadi dan Rahmani Astuti. Bandung : Mizan.
Ø  Muthahhari, Murthado. 1986.  Gerakan Islam  Abad  XX,  terj.  Rineka Cipta. Jakarta.
Ø  Nasution, Harun. 1988. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek, jilid. I. Jakarta : UI Press.
Ø  Nasution, Harun. 1995. Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran. Bandung : Mizan.
Ø  Philip K.Hitty.1974. History of The Arabs. Tenth Edition. New York : MacMillan.
Ø  Suntiah, Ratu & Maslani. 2012. Sejarah Peradaban Islam. Bandung : CV. Insan Mandiri.
Ø  Taufiq Abdullah (ed). 1991. Sejarah Umat Islam Indonesia. Jakarta: MUI.
Ø  Wahid, Hidayat Nur. 2004. Mengelola Masa Transisi Menuju Masyarakat Madani. Jakarta : Fikri.
Ø  William I. Cleveland. 1991. Islam Menghadapi Barat, terj. Ahmad Niamullah Muiz. Jakarta:Pustaka Firdaus.
Ø  Yatim, Badri. 1999.  Sejarah  Peradaban  Islam.  Jakarta : Raja Grafindo Persada.





[1] Edward Mortimer, Islam dan Kekuasaan, Terj. Enna Hadi dan Rahmani Astuti, Bandung:Mizan, 1984, hlm. 72.
[2] I.H. Qureshi, Islam dan Barat di Masa Lampau, di Masa Sekarang, dan di Masa Mendatang, Terj. Anas Mahyuddin, Bandung, 1982, hlm. 270-271.
[3] Harun Nasution, Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran, Bandung, Mizan, 1995, hlm. 105-106.
[4] Istilah “Penetrasi” berasal dari bahasa Inggris Penetration yang berarti : 1. The act or power of penetrating, 2. The depth to wich something penetrates, as military force into enemy teritory, 3. Extension of the influence as a country over a weaker one by means of commercial investments, loans, diplomatic maneuvers, etc. Lihat Victoria Neufeuldt (ed.), Webster’s New World Dictionary of American English, (New York: Simon & Schuster, Inc., 1988), Edisi III, hlm. 999. Dalam konteks kolonialisasi ini, penetrasi dapat difahami sebagai “penebusan dan penguasaan atau dominasi” Barat terhadap dunia Islam yang membawa implikasi politik, ekonomi, budaya dan agama.
[5] G.H. Jansen, Militan Islam, London: Van Books, 1979, hlm. 81.
[6] Gauhar al-Taf, Imperialisme Barat: Masalah Lama, Tantangan Baru dalam Perspektif Muslim tentang Perubahan Sosial, Terj. A. Nasir Budiman, Bandung: Pustaka, 1988, hlm. 133-134.
[7] Philip K. Hitti, 1970, History of the Arabs, Tent Edition, New York: MacMillan, hlm. 722.
[8] Taufiq Abdullah (ed), Sejarah Umat Islam Indonesia, Jakarta: MUI, 1991, hlm. 139-141.
[9] Philip K.Hitti, Op. Cit., hlm. 717.
[10] Gauhar al-Taf, Op. Cit., hlm.134-135.
[11] Harun Nasution. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek, jilid.I, (Jakarta : UI Press, 1988), hlm. 88
[12] Badri Yatim. Sejarah  Peradaban  Islam,  (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1999), hlm. 169-170
[13] Harun Nasution. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek, jilid.I, (Jakarta : UI Press, 1988), hlm. 51

[14] Murtadha Muthahhari, Gerakan Islam Abad XX, terj. Rineka Cipta, (Jakarta:Rineka Cipta, 1986), Hlm. 54
[15] William I. Cleveland, Islam Menghadapi Barat, terj. Ahmad Niamullah Muiz,(Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991), hlm. 92
[16] Harun Nasution. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek, jilid.I, (Jakarta : UI Press, 1988), hlm. 23


[17] Badri Yatim. Sejarah  Peradaban  Islam,  (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1999), hlm. 185-187

[18] Badri Yatim, 1999, hlm. 186-187.
[19] Ratu Suntiah & Maslani. Sejarah Peradaban Islam, (Bandung:CV. Insan Mandiri,2012), cet. 3 hlm 165
[20] Nurcholis Madjid. Islam Agama Peradaban, (Jakarta: Paramdina, 2000), hlm. 218
[21] Nurcholis Madjid. Pintu-pintu Menuju Tuhan, (Jakarta: Paramdina, 2008), hlm. 284-285

[22] Hidayat Nur Wahid, Mengelola Masa Transisi Menuju Masyarakat Madani, (Jakarta: Fikri, 2004), hlm. 176

0 komentar:

Go Green Souvenir